military, intelligence, security & foreign policy
military, intelligence, security & foreign policy

China vs AS : Cara Si Lemah Mengalahkan Si Kuat

Sejarah kehidupan umat manusia telah menunjukkan bahwa kemenangan bukan monopoli pihak yang lebih kuat saja. Di dalam serangkaian sisi sisi kuat suatu organisasi, terdapat titik lemah yang jika diserang dengan kekuatan yang terfokus akan dapat mementahkan sisi sisi kuat lainnya. Kadang-kadang, justru titik lemah itu terletak tepat pada sisi kuat itu. Di dalam Yang terdapat Yin, dan sebaliknya.

Dalam dunia bela diri, seorang musuh yang kuat dan bertubuh besar dapat dilumpuhkan dengan sebuah totokan tepat di titik mati dan titik lumpuhnya. Sebuah pasukan infanteri yang besar dapat dilumpuhkan oleh satu orang sniper yang menghabisi setiap orang yang bergerak paling depan. Sebuah radar dengan jangkauan luas dapat dilumpuhkan oleh sebuah rudal yang -ironisnya- dipandu oleh detektor radiasi kuat yang dipancarkan oleh radar tersebut.

Sebuah negara yang dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih, serba digital, interconnected, justru mengalami masalah yang lebih banyak ketika para information warrior (military hackers) beraksi, ketimbang sebuah negara dunia ketiga yang serba analog.

Kekuatan militer AS yang digelar di tanah Irak ternyata bertumpu padu garis suplai yang bertumpu pada – ironis dengan air superiority AS- konvoi-konvoi truk pengangkut barang yang dioperasikan supir-supir Nepal, Somali, Filipina dan negara-negara dunia ketiga lainnya.

Artikel ini menunjukkan bagaimana militer China menemukan titik lemah dari kekuatan militer AS dan mengekploitasinya dalam powerplay China untuk menjadi negara superpower abad 21:

China’s Space Weapons

“The advanced military might of the U.S. is inordinately dependent on a complex network of space-based command, control, communications, and computer-driven intelligence, surveillance and reconnaissance capabilities that enables American forces to detect different kinds of targets and exchange militarily relevant information. This network is key to the success of American combat operations. These assets, however, are soft and defenseless; while they bestow on the American military definite asymmetric advantages, they are also the source of deep vulnerability.”

Dari sisi kekuatan konvensional, militer China – sekalipun mengalami perkembangan pesat dalam satu dekade terakhir – masih memiliki kemungkinan tipis untuk menang jika dihadapkan head to head dengan kekuatan militer AS, apalagi bila ditambah dukungan sekutu-sekutu regionalnya seperti Jepang dan Korea Selatan. Di sisi lain, militer AS semakin bergantung pada jaringan komunikasi, kontrol dan komputer mereka.

Inilah sebabnya China mengembangkan senjata yang dapat melakukan serangan fisik ataupun cyber untuk melumpuhkan jaringan satelit, komunikasi dan komputer militer AS, mulai dari senjata laser, rudal anti satelit (ASAT) hingga prajurit-prajurit cyber.

China Attempted To Blind U.S. Satellites With Laser

Chinese Test Anti-Satellite Weapon

China launches People’s Information War

2 Responses to “China vs AS : Cara Si Lemah Mengalahkan Si Kuat”

  1. Ya, tapi China sendiri juga harus berhati-hati dengan permainannya yang berbahaya dengan AS.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: