military, intelligence, security & foreign policy
military, intelligence, security & foreign policy

Rekindling the Love

Mengenang masa-masa SMP, ketika masih sering menabung untuk membeli majalah ANGKASA… mengagumi F-14 Tomcat, F-15 Strike Eagle, F-16 Falcon, A-10 Thunderbolt, juga tak dilupakan Mig-25 Foxbat, Mig 29 Fulcrum, Mig-31 Foxhound, Su-27 Flanker. Menghabiskan waktu berjam-jam menerbangkan F-19 Stealth Fighter untuk membom kilang minyak di Benghazi, atau radar di Bandar Khomenyi (just a game aja). Juga berfoto di atas FFAR launcher sebuah heli di Indonesia Airshow.

But there was a time when I grew up and realize that Indonesia doesn’t have enough money to build a strong, modernized army, navy and air force. Much less to make it’s own military machines. Jadi saya ucapkan Good Bye pada kecintaan saya pada dunia teknologi militer. Apalagi ketika IPTN kemudian ‘dilucuti’ karena dianggap sebagai salah satu pemboros uang negara, habislah sudah harapan Indonesia untuk bisa membuat senjatanya sendiri.

But I guess first love never dies. Setelah lulus dari ITB tahun 2000, saya mengikuti program IYETP (Indonesian Young Entrepreneur Training Program), sebuah program kerja sama pemerintah Indonesia dan Taiwan. Program belajar bahasa Mandarin selama sebulan penuh dilakukan di Han Xiang, semacam ‘IPTN’ nya Taiwan yang berlokasi di kota Taichung. Kebetulan tempat tersebut adalah tempat pengembangan dan manufaktur pesawat tempur Taiwan, Indigenous Defense Fighter (IDF). Bahkan kami diperbolehkan berkunjung ke pusat perakitan pesawat tersebut – that’s ought to be a top secret place!. It is a very rare occasion, especially for a foreigner.

Proses kelahiran pesawat ini tidak bisa dibilang lancar. Kalau tidak salah, dua kali test flight berakhir dengan kegagalan, dimana pesawatnya jatuh dan menewaskan salah satu pilotnya. Tapi kegagalan adalah sukses yang tertunda. After all the pain, money and blood, Taiwan akhirnya berhasil memiliki pesawat tempur buatan sendiri. They stood proud of it.
Dan saya berharap Indonesia dapat mengikuti jejak Taiwan tersebut, memiliki kemandirian untuk bisa membela dirinya sendiri. And this blog is dedicated to that vision.

2 Responses to “Rekindling the Love”

  1. Halo mas Dian, pakabar….wah senang membaca tulisan ini, mengingatkan masa belajar di han-xiang dibulan puasa tahun 2000 lalu…sukses terus buat anda….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: