military, intelligence, security & foreign policy
military, intelligence, security & foreign policy

Wajib Militer, Masih Perlukah? Sebuah perspektif lain.

Satu minggu ini, perdebatan tentang perlunya wajib militer di Indonesia semakin mencuat. Penyebabnya adalah usulan Dephan untuk memberlakukan kembali wajib militer kepada rakyat sipil, sebagai persiapan untuk menambah jumlah cadangan kombatan apabila negara dalam kondisi darurat perang.

Banyak pakar baik dari pemerintahan, TNI dan LSM yang sudah bersuara. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Tapi di luar itu semua, saya ingin berbagi perspektif lain, yang saya dapatkan ketika bekerja di Taiwan selama kurang lebih setahun lamanya.

Sebagai catatan, saat ini Taiwan dianggap sebagai propinsi pembangkang oleh China daratan, bahkan ada ultimatum bahwa bila Taiwan memproklamasikan kemerdekaannya, maka China akan berusaha merebut kembali Taiwan dengan tindakan militer. Karena itu setiap pemuda (laki-laki) yang berusia lebih dari 18 tahun dan tidak cacat diwajibkan mengikuti wajib militer (dang pin) selama 2 (dua) tahun. (Itulah sebabnya banyak film-film Taiwan, termasuk Boboho, yang bersentuhan dengan kehidupan semasa wajib militer).

Dengan demikian, praktis setelah lulus SMA, para pemuda Taiwan mengikuti wajib militer. Mereka yang masuk ke perguruan tinggi boleh memilih untuk mengikuti wajib militer saat itu juga, atau cuti dulu dari kuliahnya, atau setelah lulus. Yang jelas, kewajiban itu akan tetap ‘ditagih’ oleh negara.

Mereka yang kabur dari wajib militer, dijamin tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, karena setiap perusahaan selalu meminta surat kelulusan wajib militer pada para pelamar kerja. Karena itu lulusnya para pemuda dari wajib militer menjadi salah satu milestone dalam kehidupan sosial para pemuda Taiwan. Mereka yang kabur dari wamil dianggap lembek oleh para gadis, dan sangat berpeluang gagal dalam seleksi oleh para ayah dalam mencari calon suami bagi anak perempuannya.

Lalu apa saja yang dikerjakan para wajib militer itu selama 2 tahun? Menurut penuturan teman-teman saya, bagian yang terberat adalah pada 6 bulan pertama ketika mereka mendapatkan pelatihan dasar militer. Every day running, marching, to the jungle, survival, latihan menembak, dll. Namun dalam penugasan berikutnya, tergantung pada ‘rezeki’ dan kompetensi masing-masing. Guru bahasa Mandarin saya, Zhu Laoshu – demikian kami memanggilnya, mengisi sisa masa wajib militernya dengan menjadi penjaga pangkalan rudal perlindungan udara. Teman saya lainnya ditugaskan menjadi pengajar di sebuah sekolah militer. Tentu saja, apel dan instruksi harian tetap ada sebagaimana militer pada umumnya.

Lalu apa efeknya bagi masyarakat Taiwan? Yang saya rasakan, dibandingkan dengan para pemuda Indonesia, para pemuda Taiwan lebih fokus, mereka terlatih untuk merencanakan masa depannya (kapan rencana lulus, kapan akan wajib militer, kapan akan menikah, dst) dan sedikit sekali yang menghabiskan waktu dengan tidak produktif, seperti nongkrong di pinggir jalan.

Dari segi karakter, saya merasakan mereka lebih asertif, tidak lari dari tanggung jawab, lebih mudah bekerja sama satu sama lainnya (meskipun baru bertemu) dan tidak mudah ‘mutung’ alias frustasi.

Semua karakter positif ini tentu akan sangat berpengaruh pada karakter kolektif rakyat Taiwan. Begitu pula dengan kesadaran kolektif rakyat Taiwan bahwa mereka harus selalu bekerja sama dan berpacu dalam segala hal agar tidak kalah dari China daratan.

Kembali ke rencana wajib militer di Indonesia, masihkah diperlukan? Silahkan para pakar untuk mengkajinya. Namun, kalau boleh saya memberikan saran, tentunya perlu dikaji juga segi pendanaan bagi pelaksanaan wamil yang pasti akan luar biasa juga besarnya. Jika dana yang ada saat ini tidak bisa ditingkatkan jumlahnya, jauh lebih baik bila dana pertahanan kita yang minim itu dipusatkan untuk membangun TNI sebagai kekuatan yang solid, canggih, mobile dan memiliki kekuatan pemukul (firepower) besar dan kemampuan proyeksi kekuatan yang luas, meskipun dalam jumlah yang kecil. Ingat, kita hidup dalam masa dimana tidak berlaku lagi “Yang besar mengalahkan yang kecil”, melainkan dalam masa dimana “Yang cepat (meskipun kecil) mengalahkan yang lamban.” Small, disciplined, highly mobile,  effective force with high tech and high firepower will prevail.

5 Responses to “Wajib Militer, Masih Perlukah? Sebuah perspektif lain.”

  1. setuju pak,…ada cara yg baik dan kemungkinan sangat tepat dengan kondisi keuangan negara kita tentunya anggaran TNI yg masih tidak mendapat dukungan DPR kita,…yaitu dengan pemberdayaan yg dilakukan oleh TNI melalui pembinaan wilayah/pembinaan teritorial,akan tetapi itu pun harus mendapatkan respon yg baik oleh seluruh komponen, dan tidak alergi ; justru menjadi cara ‘wamil’ yg murah meriah dan berhasil guna….sebab kita sudah mempunyai modal kemanunggalan TNI-Rakyat ; meraih kemerdekaan adalah bukti yg paling TOP

  2. Wah ini artikel udah lama banget ya
    tapi sampai saat ini masih belum disahkan UUD tentang wajib militer
    sebenernya situasi keuangan indonesia saat ini gmn sih ?

  3. Setuju wanmil gua, bakal punya keahlian. Biar aparat di indonesia juga gak semena-mena.
    Bagi gua mah satu wni mati, gua bunuh sepuluh tentara asing

  4. masih ada pelatihan utuk wargasipil yg pengen jdi pertahanan negara


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: