military, intelligence, security & foreign policy
military, intelligence, security & foreign policy

Fourth Generation Warfare (2)

Setelah membahas perang generasi pertama, kedua dan ketiga, kini kita akan membedah perang generasi ke-4. Perang generasi ke-4, menurut William S. Lind, adalah perang antara sebuah negara dengan sebuah non-state actors. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari gerakan teroris, kartel obat bius, gang mafia, transnational crime syndicate, gerilyawan, dll yang melakukan ‘perjuangan’ bersenjata melawan suatu negara, termasuk rakyatnya.

 

Ada empat kecenderungan yang terpola dalam evolusi dari perang generasi pertama hingga ke-tiga, yang akan menentukan bagaimana perang generasi ke-4 sebagai berikut:

The first is mission orders. Each generational change has been marked by greater dispersion on the battlefield. The fourth generation battlefield is likely to include the whole of the enemy’s society. Such dispersion, coupled with what seems likely to be increased importance for actions by very small groups of combatants, will require even the lowest level to operate flexibly on the basis of the commander’s intent.

Second is decreasing dependence on centralized logistics. Dispersion, coupled with increased value placed on tempo, will require a high degree of ability to live off the land and the enemy.

Third is more emphasis on maneuver. Mass, of men or fire power, will no longer be an overwhelming factor. In fact, mass may become a disadvantage as it will be easy to target. Small, highly maneuverable, agile forces will tend to dominate.

Fourth is a goal of collapsing the enemy internally rather than physically destroying him. Targets will include such things as the population’s support for the war and the enemy’s culture. Correct identification of enemy strategic centers of gravity will be highly important.

Secara singkat, empat kecenderungan itu adalah:

  1. Pencapaian mission orders akan cenderung semakin banyak ditentukan oleh aksi organisasi level bawah. Karena itu pengertian akan tujuan dari misi harus dimiliki oleh organisasi level terbawah sehingga mereka merespon perkembangan dengan secepatnya bertindak tanpa harus mengkompromikan mission orders yang lebih besar.
  2. Semakin pentingnya dispersi sehingga setiap unit terkecil  harus dapat beroperasi secara mandiri dan tidak bergantung pada logistik terpusat. Setiap unit harus dapat ’hidup’ dari sumber daya alam dan sumber daya musuh yang berhasil dirampas.
  3. Semakin pentingnya kemampuan manuver, dibandingkan jumlah ataupun firepower, mengingat konsentrasi massa dan firepower justru membuatnya semakin mudah untuk diserang. Di masa yang akan datang, pasukan yang kecil, berkemampuan manuver yang tinggi, cepat dan lincah akan mendominasi pertempuran.
  4. Kecenderungan untuk menghancurkan musuh secara internal alih-alih menghancurkan musuh secara fisik. Hal ini bisa dicapai, antara lain dengan menekan basis support politik, finansial dan material lawan untuk tidak lagi meneruskan upaya mereka mensupport pasukan lawan, atau bahkan menekan basis tersebut untuk menghentikan perang. Hal ini bisa dilakukan dengan cara serangan terhadap budaya mereka.

 

Keempat kecenderungan ini membuat perang generasi ke-4 akan menjadi perang yang tersebar frontnya dan tanpa bentuk yang jelas (largely undefined). Garis pemisah antara perang dan damai semakin menipis. Perang ini akan menjadi perang dengan front yang non linear, bahkan mungkin tidak ada medan tempur yang terdefinisi dengan jelas. Garis pemisah antara rakyat sipil dan militer semakin tidak jelas. Perang akan terjadi dalam seluruh dimensi, termasuk pada dimensi kultural. Fasilitas militer seperti airfiled, fasilitas telecom, camp training akan menjadi jarang ditemukan karena fasilitas seperti ini mudah dideteksi dan akibatnya mengundang serangan lawan.

 

Lebih jauh lagi, Lind menerangkan bahwa karena perang generasi ke-4 memiliki kecenderungan menggunakan segala dimensi sebagai medan perang, maka perang psikologis menjadi salah satu dimensi yang sangat penting.

 

Psychological operations may become the dominant operational and strategic weapon in the form of media/information intervention. Logic bombs and computer viruses, including latent viruses, may be used to disrupt civilian as well as military operations. Fourth generation adversaries will be adept at manipulating the media to alter domestic and world opinion to the point where skillful use of psychological operations will sometimes preclude the commitment of combat forces. A major target will be the enemy population’s support of its government and the war. Television news may become a more powerful operational weapon than armored divisions.

(Bersambung … )

 

 

 

 

3 Responses to “Fourth Generation Warfare (2)”

  1. saya perlu banget tentang hal ini…terimakasih

  2. numpang baca

  3. sambungannya ditunggu…..interisting


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: