military, intelligence, security & foreign policy
military, intelligence, security & foreign policy

Robot Warfare


Free Domain Names @ .co.nr!

Bagaimana peran robot dalam dunia militer? Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah memungkinkan para robot untuk digunakan dalam operasi militer. Penggunaan robot, atau drone, kini tidak hanya sebatas untuk menggantikan personil penjinak bom saja, namun kini telah merambah wilayah-wilayah ofensif, seperti reconnaissance, surveillance, dan penyerangan.

Perang di Irak menjadi proving ground wahana tak berawak ini. Mulai dari robot darat bomb sniffer, Tactical Robot untuk perang kota (MOUT – military operation on urban terrain) hingga Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Mayoritas UAV yang digunakan di Irak dikendalikan oleh operator di Amerika dan masih membutuhkan intervensi manusia saat take off dan landing, juga saat membidik target dan meluncurkan misil.

Namun generasi UAV berikutnya mulai bermunculan. Generasi UAV baru ini mampu beroperasi secara full autonomous. Dengan demikian UAV ini mampu untuk melakukan take off, menuju titik tujuan, melaksanakan misi dan kembali mendarat ke pangkalan murni tanpa intervensi manusia.

Bagaimana peranan para tentara digital ini di masa yang akan datang? Departemen Pertahanan AS telah merilis roadmap pengembangan wahana tak berawak hingga tahun 2030, Unmanned System Roadmap 2005-2030. Diprediksikan bahwa di masa yang akan datang, in the near future, para drone udara akan digunakan untuk menggantikan lebih banyak peran personil untuk misi recon dan survei (mengawasi wilayah luas dari udara selama berjam-jam untuk mendeteksi aktivitas yang tidak biasa – sangat menjemukan para pilot-) dan SEAD (Suppressing Enemy Air Defense). SEAD merupakan misi ‘penjajalan’ pertahanan udara lawan yang biasanya sangat berisiko, yang dilakukan sebelum misi serangan udara yang sesungguhnya. Sementara untuk misi air raid yang sangat kritikal, termasuk untuk melakukan dogfight, posisi para pilot manusia (yang lebih responsif dan adaptif terhadap hal yang tidak terduga) masih belum tergantikan.

Di darat, para robot disiapkan untuk mengambil alih peran logistical support, suatu misi yang biasanya diremehkan namun ternyata sangat berisiko, terlebih lagi dengan mewabahnya IED (Improvised Explosive Device – bentuk paling umumnya adalah Road side bombs) sebagaimana terlihat di Irak dan Afghanistan. Di masa yang akan datang, jalanan di daerah operasi militer akan dipenuhi dengan truk-truk pengangkut logistik yang terintegrasi dengan robot yang akan beroperasi mandiri tanpa intervensi manusia. Personil Angkatan Darat akan bertempur side-by-side dengan para robot taktis partner mereka.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya berpendapat Indonesia memiliki potensi untuk menjadi kuat di bidang Unmanned Systems ini :

  • Para pemuda Indonesia telah berkali-kali merebut juara di bidang robotika regional dan internasional. Prestasi terakhir pada tahun 2007 dicapai robot G-Rush yang berhasil merebut juara 2 dalam Kejuaraan Robot Dunia di Vietnam, mengalahkan robot dari berbagai negara, termasuk Jepang yang merupakan salah satu negara termaju di bidang robotika.
  • Robot G-Rush
  • Industri pertahanan Indonesia telah mampu membuat berbagai platform darat, laut dan udara, mulai dari pembuatan APC (Armored Personnel Carrier), Hovercraft, hingga pesawat angkut. Indonesia melalui PT IPTN telah berhasil merancang, membuat dan menerbangkan pesawat. CN235 dan N250 kendati sering diolok-olok karena bisa dikatakan gagal secara finansial (karena ditukar beras ketan), namun merupakan prestasi tinggi anak bangsa di bidang teknologi.
  • Dengan kata lain, Indonesia telah dapat menciptakan ‘tubuh’ bagi robot, tinggal menambahkan sensor dan pusat pemrosesan data sebagai ‘panca indera’ dan ‘otak’ dari robot.
  • Proses pembuatan, pengembangan dan pengujian wahana tak berawak, misalnya UAV, tidak memerlukan biaya sebesar pembuatan, pengembangan dan pengujian pesawat berawak. Hal ini tentu sesuai dengan kondisi keuangan bangsa kita yang morat-marit. Bila kondisi keuangan membatasi kita untuk dapat membuat tank dan pesawat tempur sendiri, bukankah kita dapat mengembangkan wahana tak berawak dengan fungsi serupa?
  • Perangkat robot impor yang saat ini digunakan oleh TNI/POLRI banyak memiliki kekurangan, seperti biaya operasi dan perawatan yang tinggi dan ketidakcocokan dengan kondisi di Indonesia. Robot penjinak bom POLRI buatan Inggris misalnya, dikeluhkan seringkali mengalami hang akibat terlalu panasnya iklim tropis Indonesia. Dengan demikian, sebenarnya di dalam negeri sendiri telah tercipta pasar yang bisa menjadi fondasi pengembangan wahana tak berawak.

Semoga kita semua dapat mensinergikan segenap potensi untuk kemajuan bangsa ini.

One Response to “Robot Warfare”

  1. boleh2 saja da robot untuk pengintaian.
    tapi gak boleh untuk perang.
    karena ilmu pengetahuan bukanlah untuk membunuh antar sesama


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: