military, intelligence, security & foreign policy
military, intelligence, security & foreign policy

Modernisasi Militer China

Oleh M HARIPIN*
* Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Pertahanan, ITB-Cranfield University, UK

Insiden yang terjadi antara China-Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan dan pertemuan tahunan Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC) mencuatkan kembali wacana modernisasi kapabilitas militer China. AS, dan negara besar lainnya, bertanya-tanya apakah yang sedang dikembangkan oleh militer China. Terlebih lagi, anggaran pertahanan China pun kembali meningkat, sebagaimana diputuskan dalam CPPCC. Untuk tahun ini, anggaran militer China meningkat sebesar 14,9 persen dari tahun sebelumnya, yakni menjadi sekitar 480,7 miliar yuan (Kompas, 05/03).

Modernisasi kapabilitas militer China, dan hubungannya dengan peningkatan anggaran pertahanan, adalah konsekuensi logis dari tumbuhnya perekonomian China selama tiga dekade belakangan ini. Modernisasi alutsista bertujuan melindungi momentum kemajuan ekonomi, terutama dengan cara menciptakan stabilitas dalam negeri serta melindungi aset-aset ekonomi.

Alasan kedua adalah China memiliki kepentingan untuk menangkal gerakan separatisme yang menggoncang stabilitas dalam negeri, yakni gejolak yang timbul dari Taiwan dan Tibet. Kedua wilayah itu, pada derajat yang berbeda, menantang legitimasi otoritas pemerintah pusat China atas mereka. Landasan dari alasan ini adalah nasionalisme dan integritas teritorial.

Selanjutnya, modernisasi kapabilitas militer pun tidak terlepas dari perubahan doktrin militer yang menyangkut postur Tentara Pembebasan Rakyat China (People‘s Liberation Army/PLA). Poin inilah yang jarang mendapat perhatian. Padahal modernisasi kapabilitas militer, di negara manapun itu, tidak terlepas dari doktrin militer yang mengarahkan proses modernisasi tersebut. China bukan perkecualian. Selain stabilitas dan integritas wilayah, modernisasi militer China pun terkait langsung dengan perkembangan doktrin, teknologi, dan persepsi ancaman.

n548722921_2238249_403801

Sejak awal 90-an, militer China membangun kapabilitas yang selaras dengan doktrin “limited war under high-technology conditions.” Sebelumnya, China menganut doktrin “people’s war” (1935-79), “people’s war under modern conditions” (1979-85), dan “limited war” (1985-91), (Shambaugh: 2004).

Doktrin “limited war under high-technology conditions” atau “gao jishu tiaojian xia de jubu zhanzheng” bermula dari kegusaran para petinggi PLA melihat kapabilitas militer AS dalam Perang Teluk Pertama pada tahun 1991. Pada saat itu, para petinggi komando PLA bisa dibilang merasa minder. AS memamerkan kemampuannya dalam teknologi pengintaian, intelijen, dan misil pertahanan anti-balistik Patriot.

Selain Perang Teluk Pertama, ada tiga peristiwa lain yang membuka mata petinggi PLA (Shambaugh: 2004). Pertama, Insiden China-Taiwan pada tahun 1996. Taiwan mendapat dukungan dari AS. Kedua, keterlibatan langsung NATO dalam konflik di Yugoslavia pada tahun 1999. Ketiga, Operation Enduring Freedom di Afghanistan oleh AS di bawah kepemimpinan Bush, Jr. pada tahun 2001.

Keempat peristiwa tersebut berpengaruh sangat besar terhadap penilaian strategis China mengenai kondisi geopolitik regional dan internasional. PLA, mau tidak mau, menyesuaikan diri dengan tren RMA (revolution in military affairs) yang diinisiasi oleh AS. PLA mulai menyadari pentingnya aplikasi teknologi informasi dalam medan peperangan kontemporer, contohnya penggunaan satelit untuk misi intelijen dan stealth technology. Singkat kata, China giat berbenah diri untuk menghadapi model peperangan elektronik (Electronic Warface/EW) dan peperangan informasi (Information Warfare/IW).

Guna memodernisasi kapabilitas militernya, China di antaranya bekerjasama dengan Rusia dan Uni Eropa (European Union/EU). Namun, khusus kerjasama dengan EU, China menghadapi batu sandungan. Kalangan NGO Eropa menganggap ekspor senjata ke China menyalahi EU Code of Conduct on Arms Exports (Saferworld: 2008). Selain ekspor, China juga mengembangkan industri strategis dalam negeri.

Terus Berlanjut

Modernisasi kapabilitas militer China tampak masih jauh dari kata selesai. Faktor pendukung hal itu merentang dari konteks lingkungan strategis dan kepentingan nasional China, hingga perkembangan doktrin militer serta konsistensi antusiasme para petinggi negeri itu sendiri (political will).

Baru-baru ini, China dikabarkan akan meningkatkan kapabilitas Angkatan Laut (AL) dengan cara membuat sendiri dan mengimpor kapal perang, kapal selam (nuklir dan non-nuklir), serta fregat (Kompas, 16/03). Selain itu, China berencana untuk membangun kapal pengangkut pesawat/aircraft carrier (The Jakarta Post, 07/03). Penyediaan alutsista ini, dan modernisasi militer China dalam pengertian luas termasuk teknologi serta industri strategis, tentu menimbulkan rasa penasaran AS dan negara-negara lain: kapabilitas militer apa yang sedang dan akan dikembangkan oleh China.

* Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Pertahanan, ITB-Cranfield University, UK

One Response to “Modernisasi Militer China”

  1. maaf mungkin kalau datanya lengkap lebih kali ya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: